Langsung ke konten utama

Kisah Malam Minggu I

05/06/2016. 00.18

Ada sebuah kejadian yang terjadi tadi yang saya berharap tidak akan pernah terjadi lagi untuk kedua, ketiga, keempat kali dan seterusnya. Ngeri-ngeri gimana gituuuu....  Dan dari kejadian ini juga timbul rasa kecewa yang besar. 

Kejadiannya...
Jadi lagi asyik malam minggu dengan membaca sebuah buku harus terhenti karena salah satu adik kosku mengalami kejadian menyeramkan. Yaaaappp, saya anak kos yang tinggal disebuah rumah dua lantai berisi 39 orang. Jadi bisa dibayangkan ramenya gimana, hebohnya gimana. Sekitar pukul 20.30 WIB salah satu adik kos, dikagetkan oleh sebuah penampakan tangan memegang pisau yang masuk melalui lubang ventilasi kamar mandi. TANGAN YANG MEMEGANG PISAU!!! Sambil nangis dan gemetar dia cerita kejadian itu. Bisa dibayangkan bagaimana hebohnya kami. Langsung mbak yang jaga kos ke TKP meriksa dan beberapa anak yang lain mencoba menenangkan si adik ini. Gilaa, seumur-umur jadi anak kos, belum pernah ada pengalaman kayak gini. Gimana caranya? Kamar mandi kosanku punya ventilasi yang menghadap keluar dan setelah dilihat ternyata antara rumah kos dan rumah sebelah ada lorong kecil (muat ukuran 1 orang), dan kemungkinan lewat situ.  Setelah kondisi terkendali, saya memutuskan untuk memberitahu yang punya kos mengenai kejadian ini dan meminta untuk ventilasi tersebut ditutup sementara agar aman. Sekedar info, rumah pemilik dan rumah kos berbeda dan jaraknya cukup jauh.

Dan mulailah kekecewaan itu...
Saya memberitahu kejadian ini kepada yang punya kos karena beliau wajib tahu karena ini adalah masalah besar dan bisa mengambil tindakan untuk memberikan rasa aman kepada kami. Dimulai dengan menutup ventilasi sementara. Pada intinya kami berharap beliau bisa memberikan kami rasa tenang. Sebagai anak perantauan, yang dianggap sebagai orang tua adalah pemilik kos dan pemilik kos setidaknya punya kesigapan. Tapi pada kenyataannya jauh dari harapan, tidak menyelesaikan masalah malah menambah masalah baru. Karena pemilik sama sekali tidak membantu, akhirnya kami sepakat mencari solusi yaitu mendadak membatasi jam malam dan meminta yang berada diluar untuk segera pulang sebelum jam 10 malam.

Berlebihan?... Rasanya enggak.

Tapi kekecewaan berlanjut dan bertambah..
Setelah kecewa dengan respon pemilik kos, dilanjutkan dengan respon sebagian penghuni kos. Setelah bercerita panjang lebar, beberapa ada yang melontarkan pertanyaan sekaligus pernyataan yang menurutku konyol. Mereka bilang "kok pas dia ya?", "kenapa dia ya?". Lhaaaa, memangnya dia pernah meminta kejadian itu terjadi padanya? Apakah kalo kejadian itu terjadi pada mereka, apa mereka mau? Konyol banget menurutku dan mungkin memang sekarang untuk menumbuhkan rasa empati itu susah. Trus ada lagi satu teman yang memberika kesimpulan yang lebih ngaco lagi. "Jangan ke kamar mandi kalo malam", "emang kejadian itu beneran", dan lain-lain. Bener-bener ngaco!

Dari kejadian ini, saya jadi mikir, kalo seandainya kejadian itu terjadi bukan padanya tapi pada mereka yang ga berempati dan ngaco-ngaco dan kepada pemilik kos gimana? Pernah memikirkan perasaannya? Ketakutannya yang besar? Dianggap berhalusinasi? dll? Tapi kenyataannya itu ga terjadi pada mereka dan mereka hanya bisa begitu. Apa sebegitu susahnya mencoba ikut merasakan kepanikan dan ketakutannya? Apa sebegitu mudahnya mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak berperasaan? Sikap yang bijak sudah begitu mahal.

Salam bijaksana

Komentar