12/06/2016. 20.52
Hari sabtu kemarin merupakan hari sabtu yang menyenangkan banget. Kenapa? Karena saya puas banget dengan apapun yang terjadi di sabtu kemarin. Biasanya hari sabtu atau weekend ga begitu istimewa karena kegiatannya mirip dengan hari-hari biasa pada umumnya, hehehehe... Secara saya belum ada pekerjaan tetap dan belum menuntut harus punya weekend yang istimewa. Hari sabtu kemarin itu hari yang paling kunanti-nantikan karena saya sudah punya janjian ketemu dengan seorang sahabat yang secara jasmani dan rohani (lebay), intinya selalu ada untukku. Dia itu sudah menjadi sodara rohaniku dalam beberapa tahun terakhir ini. Semangat banget buat ketemu dan saking semangatnya ga kerasa udah sabtu dan bertemu.
Oh ya, sebelumnya mungkin saya sedikit jelasin tentang Kisah Malam Minggu kali ya di blogku ini. Walaupun baru di dunia blog dan pembacanya belum ada atau sudah ada satu atau dua orang, tapi saya pengen blognya ga kerasa amatir-amatir banget, hehehe. Nah salah satunya dengan membuat kategori-kategori gitu. Mungkin ntar kapan gitu saya jelasin ditulisan berikutnya kali ya untuk kategori-kategori dan penjelasannya. Intinya, Kisah Malam Minggu ini tentang segala cerita yang kualami secara pribadi sepanjang satu minggu dan cerita orang lain yang memberikanku inspirasi. Kenapa sabtu? Karena saya kebanyakan bertemu dengan orang-orang di hari sabtu dan banyak dapat cerita, begituuuuuu... Kurang lebih inginku seperti itu, hihihi...
Sekarang kembali ke kisahnya...
Oh ya belum saya kenalkan. Sahabatku ini namanya Yeny Kukuh, sering kupanggil yekuh. Dia itu adalah
adik kelas beda jurusan waktu kuliah S1 di malang. Saya jurusan ilmu
komunikasi dan dia jurusan psikologi. Kenal dengannya tahun 2009 di
persekutuan mahasiswa daaann yang membuat kami dekat hingga sekarang
karna kami mirip secara pribadi, hahahahahaaa.. Kapan-kapan profil dia
kutulis di blog ini deh, soalnya dia salah satu yang banyak memberikan
inspirasi dihidupku *senyum lebar...
Kalo ga salah, antara 2 atau 3 minggu yang lalu saya janjian dengan sahabatku ini untuk ketemu. Soalnya kami sudah lama banget ga ketemu, padahal sama-sama tinggal di kota yang sama. Akhirnya janjianlah kami ketemu hari sabtu kemarin di salah satu mall di surabaya. Cuma biasanya, karena kami berdua tipe kolerik dan perfeksionis, biasanya janjian itu detail banget. Detailnya itu mulai dari jam brapa, lalu di mallnya itu di corner mana, apa foodcourt, atau apa gitu. Tapi kali ini kita cuma janjian ketemu hari sabtu, sekitar jam 2 siang. Alhasillah terjadilah kesusahan komunikasi dan saling nyari-nyari di mall gede. Kami baru bertemu setelah satu jam kemudian T.T... Tapi Puji Tuhan kami bertemu lalu nongkrong manis di J.CO... Hari itu kami berdua saling cerita tentang hidup kami masing-masing. Sebenarnya yang mau cerita banyak itu dirinya tapi dirinya memberikanku porsi yang sama juga untuk menceritakan kehidupanku selama kami ga bertemu. Makasih ya yekuuhhhh
Ceritanyaaaa....
Secara detail saya ga mungkin cerita apa yang yekuh sharingkan, karena nanti melanggar kode etik, hehehe. Saya belum minta ijin ke dia soalnya, jadi saya cerita aja secara garis besar dan bagian yang menginspirasiku yaaa... Banyak yang dia sharing, salah satunya adalah perjuangan dia dan keluarga saat ibunya sakit. Waktu dia selesai cerita tentang itu, saya tanya ke dia seperti ini "kamu pernah marah ga atau nanya ke Tuhan kenapa kamu yang dipilih untuk melewati ini?". Dia cuma jawab "emang kenapa tidak kak!" Jawabannya itu bener-bener nampar saya banget, rasanya tuh langsung ga bisa berkata apa-apa dan malu luar biasa. Dia bener-bener kuat dan tegar banget waktu sharing, bahkan masih bisa melucu dan tulus banget. Ga ada perasaan yang dipendam-pendam, natural dan ga dilebih-lebihkan. Lalu dia bilang "waktu aku harus menjalani ini aku sangat ga kuat, tekanan besar, sampai mati rasa, tapi semua bisa kulewati karena kasih Tuhan". Duuhh saya kembali ditampar kedua kali. Dia mau mengabil peran yang besar dengan ga mementingkan dirinya. Bisa aja sebenarnya dia menolak, secara dia anak bungsu, ada dua orang kakak yang setidaknya bisa mengambil peran itu. Tapi yekuh dengan rendah hati tetap mengambil peran besar itu dan tetap berusaha sukacita... Salut, angkat topi, sujud-sujud deh saya langsung, hehehehe....
Tapi sharingnya dia hari itu sangat memberkatiku banget. 2 minggu ini hidupku sangat hancur, bisa dibilang berada dititik nol dimana saya benar-benar kacau. Yekuhpun sampai bilang seperti itu,"kamu kacau balau banget kak!" Saya penuh dengan rasa kecewa, marah, menangis, dan menyesali keputusanku untuk menjadi dewasa. Yaaappp, saya ga mau mengambil peran besar itu, banyak banget alasan egois hingga akhirnya pun saya juga mempertanyakan pada Tuhan kenapa harus saya yang mengalami ini. Kenapa keluarga saya yang dipilih. Kenapa, kenapa, kenapa dan kenapa. Dan parahnya lagi saya berusaha mencari jawaban dari pertanyaan kenapa itu, padahal sudah sangat jelas jawabannya ada didepan mata. Jawabannya membuatku tidak berkutik dan itu membuatku semakin berontak dan terus dengan bodohnya menghindar. Saat saya share ke yekuh, dia bilang kalo wajar saya jadi kayak begini karena saya membuat alibi-alibi untuk menghindar dan menghindari segala pertolongan yang Tuhan berikan. Saya membuat tembok yang kuat dan tinggi banget, terus dan terus. Saya mengakui memang saya menolak pertolongan karena saya punya alasan melakukan itu. Tapi sebenarnya tanpa saya sadari, saya sudah membuat diri semakin terpuruk dan mengijinkan hidupku semakin tidak karu-karuan. Alhasil semuanya berantakan, secara khusus hidupk secara pribadi berantakan. Tidur kacau, makan kacau, sensitif, cengeng, gampang mempersalahkan orang dan banyak lainnya.
Kuncinya adalah serahkan semua pada tangan Tuhan. Apapun yang terjadi dalam hidup itu adalah proses untuk menjadikan pribadi kita menjadi pribadi yang dewasa. Yang membuat yekuh dan keluarga bisa tegar dan kuat melewati masa-masa itu karena mereka benar-benar menyerahkan perkara tersebut dalam kuasa Tuhan. Dan saat ini saya pun harus seperti itu. Gampang? Hahahahaha, sama sekali tidak. Sebagai pribadi kolerik itu seperti mencabik-cabik harga diri, seakan-akan kalo saya serahkan, saya menganggap diriku ga bisa menyelesaikan masalah, lemah, dan direndahkan. Saya harus rendah hati banget dan saat menulis inipun saya masih diingatkan untuk menyerahkan semua pada kuasa Tuhan.
Dewasa...
Kejadian dan sharing ini bisa dibilang kembali mengevaluasi keputusanku untuk menjadi dewasa. Mengevaluasi maksudnya bukan bertanya tepat atau tidak, tapi menyadarkan dan mengingatkan bahwa menjadi dewasa tidak mudah. Dewasa bukan soal umur, tapi pilihan hidup dan itu ada proses. Masa mau dewasa tapi tidak mau diproses? Ada suatu perkara, itu adalah proses mendewasakan. Ibarat sebuah pohon, untuk tumbuh pohon melewati proses-proses hingga menjadi pohon yang kuat, bagus dan menghasilkan buah yang manis. Proses-proses itu bukan proses mudah dan menyenangkan, tapi menyakitkan dan mengeluarkan air mata. Dewasa bukan berarti membuat kita menjadi pribadi tegar yang menyelesaikan masalah sendiri tapi kita juga perlu bantuan dari orang lain. Dewasa tidak membuat kita menjadi orang yang tinggi hati, tapi membuat kita rendah hati menerima pertolongan orang lain. Dewasa bukan membuat kita makin tinggi, tetapi membuat kita harusnya makin merendah untuk menyadari bahwa kuasa Tuhan itu besar dan hebat.
Beberapa tahun yang lalu saat saya juga pernah terpuruk, sahabat dan sodari rohaniku yang lain, namanya Dian Putri Karuniasari a.k.a Nia pernah bilang begini. "Dewi, yang kamu alami saat ini adalah masa persiapan untuk menghadapi perkara besar dikemudian hari. Aku percaya Tuhan sedang mempersiapkanmu suatu perkara yang besar dan bersamaNya kamu pasti melewatinya" (saya merindinnggggg). Mari kita belajar rendah hati menikmati proses yang Tuhan berikan. Semoga menginspirasi yaa^0^. Tuhan memberkati kita semua
Salam Hangat
Komentar
Posting Komentar